Selasa, 19 Juni 2012

PENGARUH PUPUK ORGANIK TERHADAP TANAMAN TEMBAKAU

Oleh :

Puji Astuti, S.Pt.

Pendahuluan
Tembakau Desa Tawing
           Tanaman tembakau telah lama dikenal oleh masyarakat petani. Di Indonesia komoditi tembakau mempunyai arti yang cukup penting, tidak hanya sebagai sumber pendapatan bagi para petani, tetapi juga bagi negara. Selain itu usaha tani tembakau juga mendukung program padat karya, mengingat jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan hampir 3 kali lipat jika dibandingkan dengan usaha pertanian.

            Pangsa pasar untuk komoditi tembakau saat ini memang masih menjanjikan. Mengingat jumlah penduduk yang merokok dari tahun ke tahun selalu meningkat. Hal ini juga dibuktikan dengan besarnya pendapatan negara dari cukai rokok. Sedangkan permintaan akan komoditas tembakau belum semuanya tercukupi dari dalam negeri. Hal inilah yang mendorong para petani untuk terus menanam tembakau.    
Penanaman terus-menerus, hasil panen diangkut keluar, maka sebagain besar lahan sawah di Indonesia mempunyai kandungaan C organic yang rendah, yaitu rata-rata kurang dari 0,5%. Padahal tanah dimasukkan dalam kategori subur jika kandungan C organic lebih dari 2%, atau lebih idealnya lagi 2,5% - 4%. Menurunnya kandungan C organik mengakibatkan turunnya tingkat kesuburan tanah. Hal- hal lain yang menyebabkan menurunnya tingkat kesuburan tanah, adalah sebagai berikut :
1.      Penggunaan tanah yang over intensif.
2.      Tingginya penggunaan pupuk kimiawi.
3.      Kurangnya penggunaan pupuk organik.
4.      Kurangnya penerapan usahatani konservasi.
Pemupukan tanaman tembakau
Untuk memulihkan unsur hara dalam tanah, dulu para petani menggunakan pupuk organik dari kotoran ternak dan daun-daunan. Dalam perkembangannya, penggunaan pupuk tidak terbatas hanya pupuk organik, tapi juga menggunakan pupuk anorganik/kimia. Lambat laun petani mulai meninggalkan pupuk organik beralih ke pupuk kimia yang mengandung unsur hara konsentrasi tinggi. Harapannya hasil panen melimpah, karena kebutuhan tanaman akan unsur hara tercukupi dan tersedia dengan cepat. Akibat dari perubahan pola budidaya tersebut, maka kebutuhan akan pupuk anorganik/kimia dari tahun ke tahun selalu meningkat.
Sering kurang disadari petani, bahwa walaupun peranan bahan organik terhadap suplai unsur hara bagi tanaman kurang, namun peran bahan organik yang paling besar dan penting adalah kaitannya dengan kesuburan fisik tanah. Apabila tanah kandungan humusnya semakin berkurang, maka lambat laun tanah akan menjadi keras, kompak dan bergumpal sehingga menjadi kurang produktif.
Pupuk Organik
Pupuk organik merupakan pupuk hasil penguraian bahan organik oleh jasad renik atau mikroorganisme yang berupa zat-zat makanan yang dibutuhkan oleh tanaman. Sedangkan pupuk organik yang dihasilkan dari fermentasi bahan-bahan sisa (limbah) pertanian baik ternak maupun tanaman dengan menggunakan fermenter/starter yang mengandung bakteri pengurai dan mikroorganisme pengurai lainnya dikenal dengan istilah BOKASHI (Bahan Organik Kaya Akan Sumber Hayati). 
Pupuk organik jika dibandingkan dengan pupuk anorganik/kimia, mempunyai keunggulan, antara lain :
1.      Pupuk organik banyak mengandung unsur dalam bentuk tersedia yang dibutuhkan tanaman.
2.      Unsur hara yang terkandung dalam pupuk organik dilepaskan secara perlahan-lahan sehingga ketersediaan hara sesuai dengan pertumbuhan tanaman dan mempercepat penyerapan unsur tertentu.
3.      Pupuk organik dapat memperbaiki sifat fisika, kimia dan biologi tanah.
            Jenis-jenis pupuk organik berdasarkan asal bahannya:
1.      Pupuk kandang adalah pupuk yang berasal dari kotoran ternak baik berupa kotoran padat (feses) yang bercampur sisa makanan maupun kotoran cair (urine).
2.      Pupuk kompos adalah pupuk yang berasal dari proses pelapukan bahan-bahan yang berupa dedaunan, jerami, alang-alang, rumput, kotoran hewan, sampah organik dan lain-lain.
3.      Pupuk hijau adalah pupuk yang berasal dari hijauan, yaitu bagian-bagian dari tanaman seperti daun, tangkai dan batang tanaman yang masih muda.
4.      Humus adalah sisa tumbuhan berupa daun, akar, cabang yang sudah membusuk secara alami dengan bantuan mikroba (di dalam tanah) dan cuaca (di atas tanah), misalnya lapisan atastanah di hutan.
5.      Kotoran burung liar (guano) adalah pupuk yang berasal dari kotoran burung liar, yang paling terkenal kotoran kelelawar.

Pengaruh Penggunaan Pupuk Organik.
I. Terhadap kesuburan tanah.        
Peranan bahan organik sangat besar dalam meningkatkan kesuburan tanah, dan akan menentukan produktivitas tanah. Peranan bahan organik tidak hanya berperan dalam penyediaan hara tanaman saja, namun yang jauh lebih penting terhadap perbaikan sifat fisik, biologi dan sifat kimia tanah lainnya seperti terhadap pH tanah, kapasiatas pertukaran kation dan anion tanah, daya sangga tanah dan netralisasi unsur meracun seperti Fe, Al, Mn dan logam berat lainnya termasuk netralisasi terhadap insektisida. Berkaitan dengan kesuburan fisika tanah, bahan organik berperan dalam memperbaiki struktur tanah melaui agregasi dan aerasi tanah, memperbaiki kapasitas menahan air, mempermudah pengolahan tanah dan meningkatkan ketahanan tanah terhadap erosi. Pengaruh terhadap biologi tanah, bahan organik berperan meningkatkan aktivitas mikrobia dalam tanah dan dari hasil aktivitas mikrobia pula akan terlepas berbagai zat pengatur tumbuh (auxin), dan vitamin yang akan berdampak positip bagi pertumbuhan tanaman.

II. Terhadap Tanaman Tembakau.
            Berdasarkan hasil penelitian (Djajadi, dkk, 2002) pupuk organik sebagai sumber bahan organik efektif dalam meningkatkan pertumbuhan, hasil dan mutu tembakau, serta meningkatkan serapan unsur hara N dan P pada tanaman tembakau. Semakin banyak dosis pupuk organik yang diberikan, maka serapan hara N dan P juga akan meningkat. Dibandingkan dengan tanaman yang hanya dipupuk 570 kg ZA dan 100 kg SP 36 per hektar, pemberian pupuk organik 5000 kg/Ha (mengandung 125 kg N dan 175 kg P2O5) dapat meningkatkan indeks mutu dan indeks tanaman masing-masing sebesar 36,14% dan 95,58%. Nilai indeks mutu ditentukan oleh harga dari masing-masing mutu yang dihasilkan selama proses panen, yang meliputi pemeraman, perajangan dan pengeringan. Penilaian mutu pada tembakau rajangan didasarkan atas aroma, pegangan dan warna rajangan hasil prosesing.
            Meningkatnya dosis pupuk organik atau meningkatnya kadar unsur N yang terkandung, maka cenderung terjadi penurunan nilai indeks mutu. Hal ini disebabkan daun tembakau yang dipupuk dengan dosis N yang lebih tinggi akan berwarna lebih hijau, sehingga akan memperlambat proses pemasakan dan proses pemeraman. Hal tersebut akan berpengaruh terhadap hasil rajangan kering, terutama dalam warna rajangan yang kurang cerah. Oleh karena itu hasil rajangan tembakau tersebut mempunyai nilai mutu rendah dengan harga yang lebih murah. Hasil ini sejalan dengan nilai indeks tanaman yang merupakan indeks nilai yang mengindikasikan hasil jual tembakau, karena nilai indeks tanaman sangat ditentukan oleh indeks mutu. Tembakau yang dipupuk organik dengan dosis 5000 kg/Ha mempunyai nilai indeks tanaman tertinggi dan bila dosis ditingkatkan, nilai indeks tanaman cenderung menurun.


Sumber :
-     Anonymous, 2006, Pembuatan Pupuk Organik, Dinas Pertanian dan Tanaman Pangan, Kabupaten Tulungagung.
-     Djajadi, M.Sholeh dan Nunung Sudibyo, 2002, Pengaruh Pupuk Organik dan Anorganik ZA dan SP36 Terhadap Hasil dan Mutu Tembakau Temanggung Pada Tanah Andisol, Jurnal LITTRI Vol. 8, No.1.
-     Suntoro Wongso Atmojo, 2003, Peranan Bahan Organik Terhadap Kesuburan Tanah dan Upaya Pengelolaannya, Pidato Pengukuhan Guru Besar Ilmu Kesuburn Tanah Fak. Pertanian Universitas Sebelas Maret, Sebelas Maret University Press, Surakarta.

           

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar